Alasan Rossi Gagal di MotoGP Inggris 2019: Karena Ban

MOTOGP

Sudah 7 kali Valentino Rossi harus puas dengan finis di posisi ke-4 saja dalam gelaran MotoGP Inggris 2019. Dalam seri ke-12 MotoGP 2019 ayng mana digelar di Sirkuti Silverstone, Swiss, pada tanggal 25 Agustus 2019 kemarin, The Doctor kalah bersaing dengan Alex Rins (Suzuki), Marc Marquez (Repsol Honda), dan jga Maverick Vinales (Movistar Yamaha).

Alasan Rossi: Karena Ban

Sebenarnya Rossi mengawali balapan dengan baik. Ia mengawali balapannya dengan start di posisi ke-2. Pebalap asal Italia tersebut mampu untuk mempertahankan posisinya di awal putaran. Tapi, satu putaran kemudian, ia turun ke posisi ke-3 setelah dirinya disalip oleh Alex Rins.

Bahkan setelah balapan berlangsung 6 putaran, posisinya kembali lagi melorot. Kali ini ia disalip oleh rekan setimnya, Maverick Vinales. Dan menjelang akhir balapan, performanya pun tidak juga membaik dan ia harus mau puas dengan finis di posisi ke-4.

Setelah balapan, akhirnya pebalap 40 tahun itu mengungkapkan kekesalannya sendiri. Ia mengaku kesal karena tidak bisa meraih posisi podium. Lagi-lagi, ia beralasan karena ban-nya lah yang menyebabkan dirinya mengalami kekalahan dan tak mampu meraih posisi podium.

“Ban saya sangat rusak pada akhirnya, seperti Cal (Crutchclow) dan juga Jack (Miller), juga Franco Morbidelli,” katanya dikutip dari Kompas.com. “Bagi saya sendiri, ini adalah masalah kami, karena sayangnya, dibandingkan dengan Vinales dan Fabio Quartararo, kami selalu jauh lebih menderta dengan cengkraman ban belakang,” imbuhnya.

Ini adalah kali keduanya bagi Rossi tak puas di settingan ban miliknya. Di gelaran MotoGP Qatar 201, ia mengungkapkan hal yang sama seusai finis pada peringkat ke-11.

Di ajang MotoGP Qatar 2019 misalnya, ia mengungkapkan hal itu dengan sangat yakin. “Sepertinya hari ini (Minggu) lebih panas dan saya memiliki lebih banyak masalah dibandingkan dengan Maverick, misalnya,” kata Rossi menyambung lagi.

“Vinales di hari Sabtu lalu (kualifikasi) melakukan banyak putaran di ban dan kecepatannya sama persis seperti hari ini. Saya bagus (pada hari Sabtu), saya lebih baik dari Vinales, tapi hari ini masalahnya lebih bagi kami. Kami perlu memahami cara untuk menghemat ban belakang,” katanya lagi.

Tampil Baik di Sesi Latihan Sabtu (24/8)

Memang pada sesi latihan bebas, pada hari Sabtu (24/8) kemarin, pebalap Petronas Yamaha, Fabio Quartararo, masih belum bisa terbendung. Ia sejak hari pertama ajang MotoGP Inggris sudah menempati posisi pertama, melanjutkan prestasinya iti.

Ia mampu menduduki posisi pertama setelah dengan luar biasanya mencatatkan waktu 1 menit 58,547 detik. Ia unggul 0,146 detik dari Valentino Rossi yang saat itu di posisi kedua. Walaupun Cuma menduduki posisi kedua, namun hasil itu sangat baik untuk Rossi.

Rossi nampaknya  sudah menemukan pengaturan yang tepat untuk bisa mengeluarkan potensi maksimal dari YZR-M1. Kecepatan yang meningkat membuat Rossi dapat mengasai Marc Marquez di posisi ke-3. Musim ini Marquez pasalnya tampil amat sangat konsisten dan terlihat kesulitan di Sirkuit Silverstone.

Sementara itu, hari Sabtu (24/8) posisi keempat ditempati oleh Jack Miller (Pramac Ducati)yang mana menajamkan catatan waktunya pada sesi latihan bebas sebelumnya. Sama dengan Miller, Danilo Petrucci yang berasal dari Mission Winnow Ducati pun menajamkan catatan waktunya pada sesi latihan bebas empat. Sehingga ia berhak di posisi 5. Namun untuk Rossi, sayang sekali jika ia terus mengandalkan ban belakangnya sebagai alibi tak mampu berdiri di atas podium.

Read More

Iran Hindari Israel: Boikot Kejuaraan Dunia Judo

OLAHRAGA

Para atlet Judo asal Iran pasalnya tidak akan lagi berpartisipasi di kejuaraan dunia judo di Tokyo yang akan dihelat pekan depan. Hal ini sangat mengejutkan karena komite olimpik negara itu sudah berjanji tak akan mencampuradukkan olahraga dan politik.

Hindari Isreal

Di bulan Mei lalu, federasi judi internasional (IJF) menyebutkan bahwa pihak Iran sudah menyatakan tak akan melakukan boikotnya pada negara mana pun. Tapi keputusan pekan ini malahan menunjukan hal ini tak berlaku untuk atlet-atlet Israel.

IFJ yang dalam pernyataan tertulisnya menyebutkan bahwa pihak Iran sudah memberikan komitmennya setelah adanya berbagai gugatan pada alasan cedera yang selalu diajukan oleh atlet Iran tiap kali mereka harus bertemu dengan lawan yang selama ini diketahui selalu dihindari karena alasan politis, termasuk juga Israel.

Kasus yang paling terkenal adalah ketika juara dunia 2 kali yang berasal dari Iran, Arash Miresmaeili beralasan bahwa ia kelebihan berat badan. Hal itu menyebabkan ia terkena diskualifikasi ketika dirinya akan berhadapan dengan atlet asal Israel di Olimpiade 2004 yang saat itu dihelat di Athena, Yunani.

Namun pemberitaan yang beredar di luar sana menyebutkan bahwa memang Arash Miresmaeili didiskualifikasi karena kelebihan berat badan. Keputusan itu, dilansir dari DetikSport, diambil oleh Federasi Judo Internasional karena kelebihan berat badan yang dimiliki atlet judo itu.

Walaupun tidak merinci berapa kg kelebihan berat badan yang dimiliki oleh juara dunia 2002 dan 2003 itu, Arash dinyatakan tidak berhak mengikuti nomor yang menjadi andalannya tersebut.

Namun terdiskualifikasinya Arash dari ajang judo internasional 15 tahun lalu itu mengundang banyak sekali pertanyaan dan keganjilan. Pasalnya sehari sebelumnya, tanggal 14 Agustus 2004m atlet yang jadi pembawa bendera Iran dalam upacara pembukaan tersebut sempat diisukan menolak bertanding melawan Ehud Vaks, atlet Israel, yang dihadapinya di babak pertama.

“Saya menolak bertanding melawan lawan asal Israel sebagai bentuk simpati saya pada orang-orang Palestina,” begitu lah yang dikatakan oleh Arash Miresmaeili dikutip dari detikSport.

Seperti yang diketahui ia adalah salah satu atlet yang diharapkan bisa menjadi penyumbang emas untuk Iran di cabang judo. Ajang kompetisi terakhir yang diikuti oleh atlet peringkat 5 Sydney 2000 tersebut adalah kejuaraan dunia yang digelar di Osaka di bulan September 2003.

Iran Miliki Atlet Judo Yang Berprestasi

Selain Arash Miresmaeili, ada lagi atlet judo Iran yang menjadi sorotan karena prestasinya, yaitu Saeid Mollaei. Atlet judo tersebut bertanding di nomor 81 kilogram dan berhasil membawa pulang medali emas dalam oertandingan judo kelas dewasa dunia, World Seniors Championship 2018. Tentunya prestasi ini sangat disayangkan jika diabaikan oleh Iran hanya karena alasan politis.

Saeid Mollaei pasalnya berhasil meraih emas setelah ia mengalahkan atlet judo asal Jepang, Sotaro Fujiwara di final hanya dalam waktu 16 detik saja. Sebelum dirinya lolos ke final, ia harus berhadapan dengan beberapa atlet judo lainnya termasuk dari Turki, Kanada, Belgia, Portugal dan Islandia.

Iran juga berhasil membawa medali perunggu dengan nomor 73 kg di ajang World Seniors Championship itu. Maka sayang sekali jika hanya karena alasan politis Iran mengorbankan kehebatan atlet-atlet judonya. Kejuaraan dunia Judo tahun 2019 yang akan berlangsung di Nippon Budokan, Tokyo, tanggal 25 Agustus sampai dengan 1 September 2019 juga menjadi salah satu ajang yang dihindari oleh Iran.

Read More